Selama bertahun-tahun, sistem ranking atau peringkat akademik menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan siswa di sekolah. pragmatic play Siswa dengan nilai tertinggi mendapat tempat di posisi teratas, sedangkan yang nilainya rendah berada di urutan terbawah. Sistem ini dianggap mampu mendorong kompetisi dan memotivasi siswa untuk belajar lebih giat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak sekolah—baik di Indonesia maupun di negara lain—yang mulai mempertimbangkan untuk menghapus sistem ranking. Langkah ini menimbulkan perdebatan: apakah penghapusan ranking membantu menciptakan iklim belajar yang lebih sehat, atau justru melemahkan semangat belajar siswa?

Alasan di Balik Penghapusan Sistem Ranking

Salah satu alasan utama penghapusan sistem ranking adalah kekhawatiran akan dampak psikologisnya terhadap siswa. Dalam sistem yang sangat kompetitif, siswa kerap merasa tertekan untuk selalu menjadi yang terbaik, bahkan jika itu mengorbankan kesehatan mental, hubungan sosial, atau minat pribadi mereka. Siswa yang berada di peringkat bawah juga sering mengalami penurunan harga diri dan merasa tidak berharga dalam konteks akademik.

Di sisi lain, ranking cenderung mengedepankan aspek kognitif semata dan mengabaikan potensi lain yang dimiliki siswa, seperti kreativitas, empati, kerja sama, dan ketekunan. Sekolah-sekolah yang menghapus sistem ini umumnya ingin beralih ke penilaian yang lebih holistik—yang tidak hanya menilai hasil, tetapi juga proses, usaha, dan perkembangan individual.

Apakah Ranking Selalu Memotivasi?

Banyak yang berpendapat bahwa ranking memberikan dorongan bagi siswa untuk bersaing secara sehat. Peringkat teratas menjadi simbol pencapaian dan sering kali dikaitkan dengan penghargaan sosial, akademik, dan bahkan finansial. Namun, efek motivasional dari sistem ranking tidak bersifat universal. Bagi sebagian siswa, sistem ini justru menimbulkan stres dan rasa bersaing yang tidak sehat, termasuk perbandingan sosial berlebihan dan kecemasan dalam menghadapi kegagalan.

Motivasi yang dibentuk oleh sistem ranking juga cenderung bersifat eksternal. Siswa belajar karena ingin menjadi nomor satu atau karena takut tidak naik peringkat, bukan karena dorongan untuk memahami materi atau mengembangkan diri. Hal ini dapat menghambat tumbuhnya motivasi intrinsik—jenis motivasi yang lahir dari rasa ingin tahu dan cinta belajar itu sendiri.

Alternatif Penilaian yang Lebih Bermakna

Menghapus ranking bukan berarti menghapus penilaian. Banyak sekolah kini mengembangkan sistem asesmen formatif yang lebih fokus pada pertumbuhan individu, bukan pada perbandingan antar siswa. Laporan perkembangan, portofolio belajar, refleksi diri, dan umpan balik kualitatif menjadi bagian dari cara baru dalam melihat kemajuan siswa.

Selain itu, guru didorong untuk memberi perhatian lebih pada proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya. Siswa dilatih untuk menetapkan target pribadi, mengevaluasi kemajuan mereka sendiri, dan bekerja sama dengan teman untuk saling mendukung—alih-alih bersaing secara konstan.

Dampak pada Iklim Belajar dan Sosial

Sekolah yang tidak menggunakan sistem ranking cenderung memiliki atmosfer belajar yang lebih kolaboratif. Siswa tidak lagi melihat teman sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra belajar. Mereka lebih terbuka untuk saling membantu dan berbagi pengetahuan, karena tidak merasa terancam oleh perbandingan nilai yang terus-menerus.

Dari sisi guru, penghapusan ranking mendorong pendekatan yang lebih personal dalam mendampingi perkembangan siswa. Penilaian menjadi alat untuk memahami kebutuhan belajar siswa, bukan sekadar alat ukur statistik.

Namun demikian, tantangan tetap ada. Tanpa adanya sistem yang jelas untuk mengukur posisi relatif siswa, beberapa orang tua dan pendidik merasa kehilangan acuan untuk menilai apakah siswa berkembang dengan baik. Hal ini menuntut sekolah untuk transparan dalam menyampaikan laporan kemajuan siswa dan mendampingi orang tua dalam memahami pendekatan baru ini.

Kesimpulan

Penghapusan sistem ranking dalam pendidikan bukan sekadar keputusan administratif, tetapi mencerminkan perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap proses belajar. Sistem ini berupaya menumbuhkan lingkungan yang lebih suportif, menyehatkan mental siswa, dan mendorong motivasi yang lahir dari dalam diri. Meskipun tidak tanpa tantangan, pendekatan ini berpotensi menghasilkan siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga percaya diri, tangguh, dan kolaboratif.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *